Inilah Model Membangun Masjid Penjelasan KH Kholil Yasin

Model Membangun Masjid

Dijelaskan KH. Kholil Yasin mengenai permasalahan model membangun masjid dalam Nashooihul ‘Ibad dan Q.S at-Taubah: 18:

Kitab Nashooihul ‘Ibad

Dalam kitab Nashooihul ‘Ibadnya imam Nawawi termaktub (tertulis) hadits nabi yang bunyinya:

قال النبي صلى الله عليه وسلم: ستة أشياء هن غريبة في ستة مواضع المسجد غريب في ما بين قوم لايصلوان فيه والقرأن غريب في منزل قوم لايقرءون فيه القرأن غريب في جوف الفاسق المرأة الصالحة غريبة في يد الرجل سيَء الخلق والرجل الصالح غريب في يد امرأة سيَء الخلق والعالم غريب في ما بين قوم لايستمعون فيه.

Nabi Muhammad Saw bersabda, ada enam perkara yang tidak pantas (layak) dilakukan dalam enam kondisi, yaitu:

1. Masjid yang ada di tengah-tengah suatu kaum, sementara mereka tidak pernah sholat di situ;

2. Rumah yang tidak pernah di bacakan al-Qur’an;

3. Orang-orang yang membaca al-Qur’an, namun tidak di amalkan. Maksudnya adalah melakukan apa-apa yang di larang oleh Allah Swt, juga melanggar apa-apa yang diwajibkannya;

4. Wanita sholehah yang menikah dengan pria yang buruk akhlaknya;

5. Pria sholeh yang menikah dengan wanita yang buruk perangainya;

6. Orang alim yang berada di antara suatu kaum yang tidak mendengarkan perkataannya, meliputi nasehat, perintah, dan ilmu yang diberikannya. KH. Kholil Yasin menjelaskan tidak hanya mendengarkan itu saja, bahkan masalah etika pun juga masuk ke dalamnya;

Berdasarkan hadits itu, dalam poin pertama dijelaskan bahwa model membangun masjid adalah dengan mengerjakan ibadah sholat di dalamnya. Argumen yang demikian ini, nantinya akan di jelaskan secara gamblang dalam tafsiran Q.S at-Taubah: 18.

Q.S At-Taubah: 18

إِنَّماَ يَعْمُرُ مَسٰجِدَ اللهِ مَنْ اٰمَنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

Sesungguhnya yang pantas memakmurkan masjid adalah orang-orang yang iman kepada Allah dan hari akhir.

Ulama ahli tafsir ketika menafsirkan ayat itu adalah tentang model pembangunan masjid, yakni ada dua model pembangunan, dengan arti al-‘imaroh hissan (pembangunan secara fisik) dan al-‘imarotu ma’nan (pembangunan secara maknawi).

a) Pembangunan secara fisik, seperti: merenovasi masjid dengan cara ngecat temboknya, memperindah banguan.

b) Pembangunan secara maknawi, seperti: ditempatinya masjid unutk sholat jama’ah, berdzikir

kedua model itu sama-sama dapat mengantarkan diri dalam surganya Allah Swt.

Dikisahkan, dahulu kala imam al-Ghozali pernah tidak mendapati (tidak nutut) sholat Isya’ berjamaah di masjid, sebab membahas ilmu. Usai membahas ilmu, ia pulang dan tanya kepada orang-orang yang ada di sekelilingnya, ternyata mereka semua sudah melaksanakan ibadah sholat isya’ berjamaah. Akhirnya ia pulang ke rumahnya dan sholat isya’ sebanyak 27 kali. Kemudian, imam al-Ghozali tidur dan dalam tidurnya ia bermimpi didatangi gurunya. Gurunya berkata, “kamu tadi yang sholat 27 kali itu hanya sholatnya saja, sedangkan derajatnya (pahalanya) tetaplah satu, tidak lebih.” Dari kisah itu, dapatlah disimpulkan, bahwa sholat jamaah dimasjid itu derajatnya 27, sedangkan di rumah derajatnya hanya satu.

زيِّنوا منازلكم بالصلاة وتلاوة القرأن

"Terangilah rumah kalian dengan dua perkara, yaitu sholat dan membaca al-Qur’an."

Maksud dari kata “زيِّنوا” adalah terangilah atau sinarilah, yang disinari di sini bukanlah rumahnya, namun hatinya. Dampaknya, hati yang diterangi akan menjadi tenang.

Berikut video lengkapnya:



Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url